Fiksi – Humaniora – Teknologi

Terima Kasih Kawan Kawan Maya Ku

Fiksi – Humaniora – Teknologi

Terima Kasih Kawan Kawan Maya Ku

Kita tidak pernah tahu dari mana arah pertolongan akan datang

Pukul 01.30

Rumah Sakit Umum Kertosono

“Pak, anak anda memerlukan donor darah AB rh yang sesuai secepatnya pak. Kami takut jika tidak tersedia tepat pada waktunya…..anak anda….

Maaf .. tapi kami akan mengusahakannya semaksimal mungkin…Maafkan kami pak, permasalahannya saat ini sulit bagi pihak rumah sakit untuk menyediakan donor darah yang sesuai dengan anak anda.” seorang dokter berkata seraya menatap serius ayah ku yang tertunduk lesu.

“jadi bagaimana pak ? bagaimana anak saya? Pak tolong…..” tak terasa ayah ku berlinang air mata memohon. Di samping nya ibu ku terkulai hampir pingsan di pelukan paman ku.

::::

23.34

Beberapa jam yang lalu, saat aku membuka facebook, saat berita itu telah menyebar di dunia maya. Salah satu teman facebook ku men-tag di posting nya tentang kejadian kecelakaan tragis. Awal nya rasa ngeri ku runtut membaca isi postingnya. Ngeri itu berubah menjadi nyeri yang menusuk hati saat nama yang ku kenal dekat tercantum di sana. Kak rosyid, kakak ku ternyata juga menjadi salah satu korban kecelakan maut itu, kecelakaan maut yang menelan korban di jalan raya Surabaya-Nganjuk. Sama seperti hari biasa, ia pasti hendak pulang dari tempatnya bekerja.

Itu bukan kecelakaan kecil hingga dikabarkan di salah satu media massa nasional secara langsung. Tak ayal ketika salah satu teman ku yang juga teman kakak ku mengabarkan bahwa kakak ku terlibat kecelakaan tersebut, banyak rekan dunia maya memberikan komentar dan tersebarlah berita duka itu..namun belum ada kepastian keadaan kakak ku. Saat itu aku hanya diam sesaat, mematung tak percaya benar tidaknya berita tersebut hingga telepon dari ibu membuyarkan lamunanku.

“ Nak… kim… kakak mu kim… kakak mu….cepet pulang kim… kakak mu kecelakaan..” suara ibu ku terdengar parau di ujung telepon.

“Deg…..” degup jantung ku serasa berhenti, keringat dingin mulai keluar perlahan. Kakak ku?…

Terlintas pelan bayangan kakak ku saat itu. Iyakah kakak ku…..

Terbata bata aku jawab perkata ibu ku. “ iya bu hakim pulang, bu.. mas rosyid ….? “

Tanya ku tentang keadaan kakak ku.

“ dia parah nak… dia masih koma… nak kakak mu…..” suara ibu terputus oleh tangisnya yang kembali pecah…

“ mas…?” terdengar suara adik ku yang menanggantikan.

“ iya dek, dek mas rosyid bagaimana? ”

“ mas perlu donor darah ab secepatnya mas..dia perlu darah yang cocok, mas cepet pulang mas…” terdengar suara adik ku pun mulai terhalang tangis nya.

“iya dik … mas pulang….dik, mas cepet dik.. jaga ibuk dulu dik…assalamualaikum.” salam ku menutup pembicaraan.

Aku yang masih larut dalam ketidak percayaann langsung meng iya kan pinta ibu ku dan pulang dari Kediri ke Kertosono.

::::

02.15

Kediri Kertosono kutempuh dalam waktu yang benar benar singkat. Aku langsung menuju rumah sakit tempat kakak ku dirawat. Disana telah menunggu adik dan paman ku…

“dek.. mas rosyid gimana? “ tanya ku segera setelah bertemu mereka.

“ kakak…. “ jawab adik ku terputus saat ku terdengan seseorang memanggil nama ku dari arah belakang.

Aku kenal wajah wajah itu, kak Eko, kak Agus, kak Dana dan beberapa teman dekat kakak ku telah di sana sebelum aku.

“ mas.. kalian semua kog sudah disini? “ tanya ku sedikit heran..

“ iya mas.. mas mas semua sudah disini dari tadi… mereka yang mendonorkan darah buat mas rosyid ..” terang adek ku.

“ hakim yang sabar ya. Kami Cuma bisa membantu sedikit. Semua langsung menyebar berita kalau rosyid butuh donor darah secepatnya..”

“ mas tau dari mana? “ binggung ku menyeruak lagi..

“ dek fani yang menuliskan lewat facebook.. dia nulis kalau mas mu lagi kritis dan secepatnya butuh donor. Nah kami yang masih online pun langsung minta bantuan teman teman yang lain. Dan alhamdullah mas Eko, Dana dan mbak Rahmi golongan darahnya cocok sama mas mu.”

“ ya Allah……. alhamdullah…… mas mas semua…. aku gak bisa bilang gimana gimana lagi … makasi semua nya… mas .. mbak…. semoga Allah yang balas ….” jawab ku …

Aku benar benar tidak menyangka ada jalan seperti ini buat menyelamatkan kakak ku… terima kasih tuhan….. terima kasih semua teman teman…..

Tidak ada lagi yang bisa ku lakukan selain terus bersyukur sambil berdoa buat kakak ku.

::::

03.46

Tangis ibu ku terdengar kencang pecah dari dalam ruangan itu…

Darah ku berhenti saat pintu kamar operasi terbuka dan muncul meja dorong besar dengan selimut putih yang menelingkup di atasnya…

“innaillahi wa innaillahi rojium…”

Seru ku sambil sebisa nya menahan tangis….

Kugenggam erat tangan adik ku yang hampir pingsan.

“ ya Allah .. ini kah jalan mu..?…… “

Air mata ku telah deras menetes dalam hati ku …. tapi aku harus tetap ikhlas….

Aku berjalan kearah meja dorong itu.. dan tiba tiba…..

“gelap…” aku pingsan

::::

Lebih dari rasa kehilangan ku yang amat dalam, aku tahu satu hal….

Telah ada usaha yang besar untuk kakak ku tercinta.. bukan hanya dari keluarga ku.. tapi juga teman teman nya yang mencintainya.

Terima kasih teman teman maya ku.

Mocha Majid, 2010

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.