Opini – Humaniora – Lingkungan Hidup

Sebatang Pohon Saksi Eksistensi Green Party

Opini – Humaniora – Lingkungan Hidup

Sebatang Pohon Saksi Eksistensi Green Party

Eksistensi Green Party yang kini dipertanyakan

Melihat geliat green party (partai hijau) yang kini mulai digiatkan sebagai platform partai-partai politik di negeri ini memang masih seumur jagung. Secara praktis serta teoritis,  green politic (politik hijau) yang menjadi ruh utama dari lahirnya green praty bermuara dari perjuangan era 80’an dibawah semangat Emil Salim, seorang pemerhati lingkungan hidup yang membawa wacana pembangunan berkelanjutan (sustainable dovelopment) yang diharapkan mampu membawa angin segar bagi perkembangan negara pada masa pemerintahan Orde Baru tersebut.

Namun resistensi akan pandangan tersebut terlalu deras dari pemerintah saat itu, ntah akibat kurangnya pemahaman atau memang peran absolut yang dipegang para penguasa kita. Sehingga wacana pembangunan berkelanjutan pun ternyata hanya bertiup tanpa kelanjutan. Ironi yang tak tersolusi.

Namun kini, saat kesakralan demokrasi menjamin tiap suara pembaruan diapresiasi dengan layak. Apakah wacana pembangunan berkelanjutan yang membawa implementasinya kearah green party dilakukan dengan sepenuh hati ?. green party nampaknya masih hanya menjadi atribut “emas” yang ditempel di tiap dada elite politik kita. Setidaknya hal tersebut yang penulis tangkap dari sekian banyak fakta yang ada. Sekali lagi demokrasi menjamin kebebasan pendapat saat adanya pendapat yang berbeda dengan pendangan penulis.

“Pemilu 2004, organisasi lingkungan WALHI serta ICEL memantau beberapa partai politik peserta pemilu yang mengangkat isu kebijakan lingkungan dalam agendanya antara lain, PKB, PKS, PDIP, PAN, PBB, PPP, PKPB, PBR serta PPIB”  (WALHI-ICEL, 2004)

Terpampang jelas arah pandang partai-partai tersebut dalam kebijakan lingkungan yang ada, namun nampaknya kembali implementasi nihil menjadi jawabannya. Kita patut menghargai saat tindakan pro lingkungan yang dilakukan oleh beberapa parpol telah terlaksana dengan baik. Ribuan bibit pohon telah ditanam, ratusan lembar rancanangan undang-undang lingkungan telah tersusun, agenda-agenda bernafaskan cinta lingkungan telah memanjakan nurani rakyat negeri ini.

Coba menggali fakta, apakah harapan berkelanjutan dari tiap konstituen politik akan “hidupnya” lingkungan hidup dapat menjadi kenyataan saat wakil rakyat kita telah duduk nyaman di singsananya ? , Tidak , Belum ataukah mimpi ini hanya akan menjadi pelicin bagi manuver politik para penyambung lidah rakyat kita ?  . Kita hanya dapat berharap dan semakin memekakan hati nurani kita dalam memilih para “wali” kita untuk masa depan.

Di tengah peliknya pemasalahan eksistensi beberapa partai akan tanggug jawab memanggul gelar “Green” dipundaknya. Kini masyarakat disuguhi fenomena fraktal yang mungkin dapat menjadi check list rakyat akan seberapa “green” kah green party kita. “Melihat eksistensi green party dari sebatang Pohon”.

Bagimana bisa ? apakah pohon juga ikut ambil bagian menjadi konstituen dalam pesta demokrasi ini ? jika kita hanya melihatnya sebelah mata tentu akan sulit dicerna, namun coba benar-benar membuka mata kita. “Nyawa” tiap pohon di tepi jalan, di taman kota hingga pelosok desa yang seharusnya dilindungi kini telah menjadi salah satu “tim sukses” bagi calon wakil kita tersebut. Pohon-pohon itu kini telah diambil alih oleh para penghuni baru.

Penghuni baru yang sama sekali tak memikirkan nasib mereka (baca: pohon-pohon). Hal kecil yang masih dianak-tirikan dalam tiap agenda politik pesta demokrasi pemilihan para wakil kita, perhatian terhadap kelestarian lingkungan utamanya pohon-pohon yang memprihatinkan. Penulis hanya ingin mengajak untuk melihat dari hal yang sederhana akan eksistensi green party.  Pastinya semua setuju, sesuatu yang besar bermula dari setitik usaha kecil ?

Tak perlu hal yang luar biasa, namun “lihatlah” apa yang “dilihat” oleh rakyat *

Masa Kampanye Babak Awal Pembuktian Diri

Dalam tiap agenda politik pemilihan wakil legislatif baik di tingkat daerah hingga nasional, selalu memberikan warna yang berbeda dari keadaan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Suasana riuh kampanye dari pada calon wakil kita tersebut sedikit lebih mempengaruhi pola tatanan suatu daerah di mana ajang “unjuk gigi” tersebut digelar.

Adalah atribut politik, senjata wajib yang sangat mudah kita jumpai baik di pinggir jalan, di tempat-tempat umum, institusi pemerintahan, hingga tembok-tembok warga yang tak pernah luput dari efek tahunan berkala ini. Hal tersebut berdampak sangat buruk baik dari segi etika maupun estetika.

Yang menjadi miris manakala atribut politik seperti poster, spanduk, baliho ataupun selebaran kecil kini menjadi ancaman “wabah” ganas bagi lingkungan. Pohon di pinggir jalan, lingkungan perumahan, taman bermain, hingga RTH ( ruang terbuka hijau ) yang ada hampir di seluruh penjuru tanah air lah yang menjadi target utama setiap waktunya.

Pohon-pohon dipaksa menjadi alat peraga, di paku, di lukai, hingga tak jarang mereka di babat habis saat dirasa kurang tepat menghalangi penglihatan strategis atribut politik yang dipajang. Ironi mencuat manakala aktor di belakang semua ini tak lain ialah caleg-caleg dari partai-partai berlabel HIJAU. Ntah hanya menjadi warna agendanya saja atau pemikiran kedepannya.  Saat atribut politik yang seharusnya dapat menjadi citraan positif kredibilitas para wakil rakyat, kini malah membuat rakyat alergi untuk menyerahkan kepercayaannya.

Mari kita lihat sederet fakta yang ada..

Kalau setiap caleg yang berjumlah 460.000 orang di seluruh Indonesia mencetak 1.000 poster, totalnya ada 460 juta poster. Jika satu poster pajangnya 50 cm saja, ketika berjejer urutan panjangnya bisa mencapai 230.000 kilometer. Seberapa panjang itu? Bentangan jarak dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua hanya 5.000 kilometer. Artinya, bentangan poster itu mencapai 46 kali jarak dari ujung ke ujung negeri ini. (Benni Setiawan, 2005)

Bayangkan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan jika poster tersebut melukai pohon kita ?

Pemasangan atribut politik yang tak sesuai, telah melanggar banyak peraturan yang ada, sederet peraturan yang ada antara lain :

  • Peraturan KPU Nomor 19 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
  • Aturan pemasangan alat peraga seperti poster dan baliho tertuang dalam pasal 13 ayat 5 yang terdiri dari poin a sampai h. Misalnya dalam poin d disebutkan; pemasangan alat peraga oleh pelaksana kampanye, harus mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan daerah setempat. Dalam poin e juga disebutkan; pemasangan alat peraga pemilu harus berjarak dari alat peraga peserta pemilu lainnya.
  • Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 mengenai Pemilihan Umum Legislatif terutama Pasal 101 ayat 2 yang menyatakan bahwa pemasangan alat peraga kampanye pemilu (termasuk baliho dan bendera) harus mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan, dan keindahan kota atau kawasan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal ini jugalah yang memberi legitimasi bahwa pohon tidak dapat dijadikan tempat untuk kampanye bagi para caleg maupun partai politik apalagi tindakan nakal seperti ditebang dan dipaku.
  • Hingga segala hal yang dapat merusak lingkungan, nyatanya melanggar UU Konservasi, UU Lingkungan serta UU Pemerintah Daerah.

Inikah bukti awal keseriusan pembelaan akan lingkungan ? penulis dapat mengatakan apa yang digembar-gemborkan melalui visi-misi politik hijau masih bias dalam tatanan praktis politik Indonesia.

Semua pelangaran tersebut tentu memiliki aktor dibelakangnya, penulis ingin berbagi sedikit fakta data yang ada.  KjPL (Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan) mencatat , sedikitnya ada seratus lebih caleg di Jawa Timur yang melakukan perusakan lingkungan sehubungan dengan pemasangan atribut politik yang telah merusak keberlangsungan lingkungan. Para caleg-caleg tersebut tidak hanya sekedar merusak keindahan kota, tapi juga telah merusak lingkungan karena ternyata tidak sedikit di antaranya mereka nekad menebang pohon agar atributnya terlihat jelas.

KjPL mencatat sebagian besar terbukti caleg yang ada, telah merusak lingkungan, diantaranya dengan menempelkan gambar wajah mereka di pohon, bahkan ada yang memaku dan menggunakan pohon sebagai sandaran berdirinya baliho atau poster wajah para caleg. Baliho dan Banner caleg yang nempel di pohon itu ternyata di paku dan dipasang seenaknya

Miris…., meski hanya baru ada sedikit data yang tersajikan. Penulis mengangap hal tersebut telah mencerminkan sebagian besar keadaan tatanan mindset para caleg dalam tiap kampanye yang diselenggarakan. Sekali lagi penulis menggaris bawahi, sebagian besar bukan seluruhnya dan jika kita lihat dari data tersebut sebagian di antaranya merupakan caleg usungan partai hijau.

Apakah benar ini bentuk nyata eksistensinya? Jika hal kecil dikesampikan, ditakutkan hal-hal besar yang kini diembar-gemborkan akan hilang ditelan kemenangan. Nanti.

Dalam artikle tersebut juga terangkum jawaban ketika beberapa caleg ditanya mengapa memasang atribut politiknya pada tempat yang tidak semestinya, melainkan malah di pohon ? dengan mudah caleg tersebut berkelit. Mereka tidak mengetahui perihal masalah tempel-menempel poster mereka, lalu apa yang mereka tahu ? apakah hanya rencana indah yang akan dilakukan saat sudah duduk manis di kursi dewan ? di manakah letak eksisitensi partai hijau tersebut ?.. sekali lagi . Miris….

Kini saatnya kita tidak mudah terlena dengan buai janji masa pesta demokrasi ataupun nama besar yang dibalut “wibawa” ( baca: wi… bawa uang, wi…. bawa sembako, dan wi.. bawa2  yang lain) dari calon pengempu harapan masa depan kita. Marilah bervisi kedepan. Visi masa depan yang lebih baik*

Menggagas Kampanye Politik yang Lebih Baik

Pada dasarnya kampanye yang baik ialah kampanye yang sehat. Disamping tujuan sebagai sarana penghimpun konstituen partai namun juga menaati peraturan seperti tidak adanya money politic ataupun pelanggaran utamanya dalam hal ini pelanggaran atribut politik yang merusak lingkungan dan tata tertib.

Namun sejalan dengan pratik yang ada, terdapat pergeseran cara pandang dari kampanye yang baik menjadi kampanye yang “sukses”, sukses menjaring simpatisan namun tanpa mengindahkan peraturan yang ada. Hal ini yang harus di hapus dari kamus hidup partai politik kita.

Mengerucut kembali pada obyek kajian utama yaitu kurangnya perhatian partai politik utamanya yang menyandang gelar green party terhadap cara berkampanye dengan atribut partai yang telah menggesampingkan keberlangsungan lingkungan, sebenarnya ada jalur berkampanye lain yang  lebih bisa diterima serta dapat lebih mengundang simpatik rakyat.

Kuncinya ialah “ lebih melihat apa yang dilihat rakyat “ , terkadang partai politik hanya memandang keberhasilan dari apa yang akan dicapai dalam jangka pendek. Sedangkan rakyat berharap akan perubahan menuju perbaikan yang lebih baik di masa depan.

Faktanya segala daya upaya selama masa kampanye, memang memberikan dampak yang besar bagi keberhasilan para wakilnya melenggang ke kursi legislatif namun pemilihan pemaksimalan atribut politik nampaknya saat kini kian kurang efektif serta malah memberikan efek yang buruk bagi partai, seperti kerusakan lingkungan, terganggunya tata ruang publik, bahkan cenderung membuat rakyat jenuh akan gambar wajah-wajah penuh “harapan” (baca: antara harapan bangsa dan pribadi) tersebut.

Alangkah lebih positifnya jika amunisi bombardir atribut politik tersebut dialokasikan kepada cara berkampanye yang langsung menyentuh rakyat. Bayangkan alangkah lebih berartinya bagi konstituen partai saat calon wakilnya dengan rendah hati datang mengunjungi secara langsung mereka dan memberikan apa yang mereka butuhkan bukan hanya handal memberikan harapa-harapan yang semoga terwujud.

Menengok sejarah luar biasa yang ditorehkan oleh Presiden Amerika Serikat saat ini Barack Husein Obama Jr. Beliau juga menerapkan bentuk kampanye yang langsung turun ke bawah. Selain itu Barack Obama juga melakukan bentuk kampanye melalui media-media yang lebih elite dan efektif melalui dunia maya. Hal-hal seperti itu nampaknya sangat perlu di lakukan disamping jalur kampanye konvesional yang ada.

Dunia luar juga dapat menjadi contoh akan green  politic, salah satunya yang telah berhasil berakar di Negara Jerman serta beberapa Negara Eropa lainnya. Dengan perpaduan konsepsi intelektual yang memadahi serta di sokong cocern yang nyata serta terarah dari partai politik hijau, nampaknya sikap tersebut perlu di adopsi serta dikembangkan di negeri kita. Utamanya menuju keberhasilan eksistensi partai hijau di Indonesia.

 Penutup

Wacana green party nampaknya harus semakin urgent diterapkan pada politik di negeri kita. Revitalisasi pandangan visi serta misi dari setiap partai politik akan politik yang berbasis modernisasi ekologi menjadi hal yang diharapkan dapat diterapkan secara nyata tidak hanya secara konseptual namun juga melalui tindakan dan perilaku yang mencerminkan basis partai politik ber platform green party.

Wujud langkah nyata dapat dilihat dari hal kecil, dan lebih utama lagi menjadikan kepercayaan dari rakyat menjadi perbaikan di masa mendatang. Namun semua hal tersebut tentunya tetap memerlukan kontribusi bersama dari semua pihak demi tercapainya eksistensi yang nyata, eksistensi green party Indonesia.  Amin. *

Mocha Majid, 2010

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.