Opini – Edukasi

Menggagas “Pendidik Kultular-Bilingual”

Opini – Edukasi

Menggagas “Pendidik Kultular-Bilingual” dalam Sekolah Berstandar Internasional

Menggagas “Pendidik Kultular-Bilingual” dalam Sekolah Berstandar Internasional

Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi masa depan yang dapat membawa bangsa menuju arah yang lebih baik. Dewasa ini, sekolah-sekolah bertaraf internasional, baik negeri maupun swasta telah menjadi era baru di dunia pendidikan Indonesia.

Para orang tua dan institusi pendidikan pun merasa bangga dengan perkembangan yang telah ada ini. Bangga karena sekolah tersebut mampu memberikan fasilitas yang jauh lebih baik dan lengkap dibanding sekolah biasa. Tetapi bagi sebagian pandangan dalam dunia pendidikan, konsep Sekolah Berstandart Internasioal kini beraromakan pengikisan semangat nasionalisme bagi para siswa di negeri ini.

Yang menjadi momok manakala generasi muda kita kian bias akan jati diri mereka, tak ayal suatu saat generasi kita tidak hafal lagi dengan kebudayaan daerah bahkan seperti halnya lagu nasional hingga kepedulian mereka pada esensi Pancasila serta UUD ’45. Hal tersebut diasumsikan setelah melihat dominasi sistem “standart” Internasional (baca: luar negeri/asing) dalam kesehariannya.

Kini saatnya kita mencermati penerapan kurikulum dan proses belajar mengajar di sekolah bertaraf internasional ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di harapkan di kemudian hari. Dan peran pendidik yang tepat nampaknya merupakan salah satu harga mati menuju hal tersebut.

Menilik kembali konsep pendidikan berstandart internasional, Definisi mengenai pendidikan internasional erat berhubungan dengan konfrensi pendidikan (ICE) di Geneva, 1994 dan konferensi umum UNESCO Tahun 1995 di Paris. ICE dikelola oleh Biro Pendidikan Internasional (UNESCO) dan mengajak serta Menteri Pendidikan dari seluruh Negara yang bertujuan antara lain untuk mengembangkan :

1) Nilai yang universal bagi adanya budaya perdamaian; 2) keampuan untuk menghargai kebebasan dan tanggung jawab warganegara yang ada didalamnya; 3) Pemahaman antar budaya yang mendorong pemersatuan ide dan solusi untuk memperkuat perdamaian; 4) Kemampuan untuk memecahkan konflik tanpa kekerasan; 5) Kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan; 6) Menghargai warisan budaya dan pemeliharaan lingkungan; dan 7) Rasa solidaritas dan keadilan pada tingkat nasional dan internasional (Afi Fadlilah,2010)

ICE mengajak serta dunia pendidikan salah satunya mengembangkan kesadaran untuk menghargai warisan budaya dan pemeliharaan lingkungan, di samping beberapa aspek lainnya. Hal ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya konsep pendidikan berstandart internasional juga menaruh harapan yang besar terhadap eksistensi warisan budaya sebagai jati diri bangsa, namun nampaknya di negara kita hal tersebut belum dapat diterapkan dengan baik.

Dalam penyelengaraan sekolah berstandart internasional juga didasari filosofi eksistensialisme dan esensialisme (fungsionalisme) sebagai ruh di dalamnya. Dalam filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua potensinya, baik potensi (kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spiritual (SQ).

Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal, nasional, maupun internasional. (Ibid hal 37-38 ,2009)

Melihat konsep dasar tersebut, tidaklah berlebihan jika peran pendidik menjadi sangat urgent menjawab tantangan global ini. Sekolah Berstandart Internasional adalah sekolah yang seharusnya mampu membangun komunitas berbahasa Inggris secara tepat di lingkungan sekolahnya dan bukan sekedar menyampaikan beberapa pelajaran dalam dua bahasa. Hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan kualitas pengajaran kurikulum standart internasional yang baik, jika komunitas bilingual itu tercipta.

Bagi sebagian orang tua, memberikan fasilitas dalam lingkup pendidikan berkonsep bilingual  merupakan usaha dini menuju penguasaan bahasa asing bagi putra putri mereka. Namun faktanya, memberikan pendidikan sejak dini memang akan lebih baik, apabila diarahkan menuju ke pola pembelajaran yang benar, yaitu pola pembelajaran interaksi yang bermakna.

Guna mencapai harapan tersebut diperlukan guru-guru yang terampil, meskipun dengan kemampuan bahasa inggris yang tidak terlalu tinggi, namun dapat memahami bahasa inggris untuk proses pengajaran kepada anak-anak didik mereka. Hal ini lah yang memberi makna pendidik yang Kultural-Bilingual. Selain dapat memberikan pendidikan bilingual yang baik, dari segi pedagogik pun seorang pengajar harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai jati diri dari bangsa kita, meliputi pengetahuan kebudayaan serta pengetahuan nasional.

Selanjutnya seorang pengajar harus dapat memberikan porsi yang seimbang antara konsumsi “makanan” asing yang memang dibutuhkan namun juga porsi “lokal” berwawasan kebudayaan nasionalisme baik secara langsung dalam proses belajar mengajar maupun melalui pengajaran nilai-nilai yang ada.

Sekolah Berstandar Internasional (SBI) merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia agar mempunyai daya saing dengan negara maju di era global. Melalui adopsi standar internasional dapat memajukan bangsa sebagai faktor kunci tambahan di samping Standar Nasional Pendidikan.

Dalam perjalanannya, kebijakan SBSI mulai terlihat beberapa kelemahan, baik secara konseptual maupun sistem pembelajarannya. Maka pemerintah sebaiknya melakukan berbagai langkah perbaikan konsep melalui studi/penelitian mendalam sebelum kebijakan tersebut bergulir. Melalui usaha tersebut, semoga pendidik  berstandart “internasional” yang adaptif, progresif serta berjiwa nasionalisme pun dapat diwujudkan.

Mocha Majid, Mei 2015

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.