Opini – Humaniora

Melepas Jepit Sang Peniup Peluit

Opini – Humaniora

Melepas Jepit Sang Peniup Peluit

Sebuah pemikiran tentang kebebasan…

November 2009, jadi bulan yang menyebalkan bagi Fani ( adik saya, 8 tahun ). Bagaimana tidak hampir tiap hari, nonton tivi yang jadi hobi utamanya kini telah jadi hal yang membosankan buat fani. Kog bisa batin ku, “ ki acara ne Susno thok, mas“ ujar nya polos ( bahasa jawa artinya : “ ini acaranya Susno aja, mas” ).

Terfikir dalam benak, luar biasa kini “bau borok” kaum elit kita pun sudah bisa menggangu hingga kehidupan pribadi seorang anak kecil yang notabene nya belum mampu mengerti apa dan mengapa ? memang sebenarnya apa yang terjadi…

Seorang jendral bintang tiga Komjen Pol Drs. Susno Duadji, S.H, M.Sc. , mantan Kabareskrim Polri yang menjadi bintang tivi selama beberapa bulan lalu dan peran antagonis lah diperankan ( setidakya buat adik saya ). Beliau adalah seorang insan luar biasa yang dengan berani telah mengali lubang hitam kebobrokan di negeri kita. tak hanya jadi bintang lokal ( intern institusinya-Polri ) hingga merembet pada beberapa institusi negeri ini.

Tak kan panjang lebar tentang apakah adegan “hot” yang ia perankan, kini publik telah menyematkan banyak atribut non formal untuk nya. “ Pahlawan” kah ? “ Penghianat” kah ?  yang jelas satu julukan yang saya pribadi meng-amin-i nya, “ Whistle Blower “ sang peniup peluit yang mencoba meniupkan gema keadilan yang kini semakin gamang.

Mempertanyakan “Kepahlawanan”

Benarkah kepahlawanan Susno memang lahir dari niatnya memperbaiki negeri ? ataukah karena ia merasa sakit hati setelah dicopot dari jabatan “basah”nya sebagai Kepala Bareskrim ? Kalau Susno tetap duduk manis di kursinya sambil menonton anak buahnya menikmati “hasil pemakelaran”, kisahnya jadi beda. Tapi kini harga mahal harus ia bayar, kisahnya kini menuntunnya menuju peran utama pemegang kunci kotak Pandora negeri kita.

Melihat rekan seperjuangannya, Agus Condro Prayitno. Seorang wakil rakyat dari Fraksi PDI P yang telah menyebar ke-ngeri-an bagi rekan sejawatnya saat riuh kasus suap pemulusan Miranda Goeltom menjadi Deputi Senior Bank Indonesia.  Dengan gagah berani ia menyebutkan telah menerima cek “berminyak” senilai Rp 500 juta, lalu mengembalikannya, seraya menyebutkan semua temannya sefraksi dan anggota sekomisinya yang menerima suap itu.

Berkat dia, orang yang berpenampilan alim di parlemen kelihatan belangnya, anggota Dewan yang biasanya vokal mendadak bisu.Apakah “kepahlawanan” Agus ini ingin meningkatkan citra parlemen-yang semakin terpuruk-atau….. karena ia sakit hati tidak dicalonkan lagi oleh partainya?. Who know . Ini kah “whistle-blower” yang di harapakan ?

Sebuah artikel ulasan panjang, jangan sungkan jika kawan-kawan ada yang ingin sharing terkait artikel lengkapnya 🙂

Mocha Majid, 2009

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.