Fiksi – Humaniora

Kisah Ibuku Dan Sepatunya

Fiksi – Humaniora

Kisah Ibuku Dan Sepatunya

Kisah ibu dan masa kecilnya…

Mendengarkan kisah orang tua kita kadang dapat membawa bayangan masa lalu yang penuh arti. Begitu pula ketika mendengar kisah ibu ku mengenai kehidupan pada masa kecil nya dahulu. Namun lebih dari sekedar kisah saja, aku dapat menyadari 1 hal yang membuat ibu ku berubah, berubah menjadi seperti saat ini. Ibuku menjadi seseorang yang benar benar sangat menyayangi putra putrinya, menyayangi kami dengan cara nya.

Tepatnya sekitar tahun 1977, ibu ku masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sebagai seorang siswa tentunya ibu ku juga menginginkan perlengkapan sekolah yang bagus dan lengkap. Namun dengan keadaan nenek ku yang hanya berjualan beberapa potong baju di pasar, untuk membeli perlengkapan sekolah yang baru dan bagus tentunya sangat sulit pada waktu itu.

Nenek ku hanya seorang diri dengan 2 anak perempuannya, ibu ku dan tante ku. Sedangkan kakek ku sudah meninggal waktu ibuku masih kecil sekali. Pada waktu itu tante ku tinggal di Surabaya, jadi hanya ada ibuku dan nenek ku di rumah. Kehidupan ibu dan nenek sangat sederhana, dulu nenek ku seorang yang sangat pelit, kata ibuku seperti itu. Kata ibu nenek selalu beralasan untukberhemat, jadi ibu ku hanya bisa menurut saja.

Pada waktu itu ibu sangat menginginkan punya sepatu untuk sekolah. Ibu melihat teman temannya banyak yang bersepatu, meski ada juga yang masih memakai sandal pada waktu itu. Ibu terus meminta ke nenek untuk dibelikan sepatu. Namun nenek selalu menolak, dengan alasan menghemat, dasar pelit, itu kata ibu ku waktu itu.

Ibu hanya bisa berharap untuk bisa bersepatu ke sekolah. Hingga pada suatu siang, saat ibu pulang sekolah. Ibu melihat sepasang sepatu diletakkan di dekat meja belajarnya. Ibu sangat senang waktu itu, ini pasti sepatu dari nenek ku untuk ibuku. Sepatunya memang terlihat tidak baru lagi. Tapi ibu ku suka dan senang sekali.  Nenek ku pun bilang kalau itu sepatu bekas yang nenek beli di pasar loak untuk ibuku. Sepatu itu berwarna merah dengan 2 manik manik di setiap sisinya. Ibu ku benar benar senang sekali.

Meski senang dengan sepatunya itu, tapi ibu sangat jarang memakainya karena sayang jika rusak atau kotor. Pernah ada cerita sedih tapi juga lucu tentang sepatu merah itu. Pada suatu hari ibu memakai sepatu itu karena ada pelajaran olahraga di sekolah.

Seusai sekolah, ibu langsung pulang menuju pasar tempat nenek ku berjualan. Namun ditengah jalan ibuku sadar 1 manik manik di sepatu nya sebelah kanan copot. Ibuku sangat bingung lalu mencarinya.,  Namun manik manik itu tidak ditemukan. Ibu sangat sedih dan takut kalau nenek ku marah gara-gara manik manik sepatunya hilang.

Ternyata benar, waktu di pasar ibu bercerita tentang manik maniknya yang copot dan nenek langsung memarahi ibu ku dan memukul pantat ibu dengan rotan kecil. Kata ibu tidak terlalu sakit dipukul tapi karena ibu ku malu, ibu ku menangis sampai kencing di celana. Lalu lari pulang ke rumah. He he he sangat lucu tap juga sedih. Ibu bercerita dengan tertawa kepada ku.

Dari situ aku tahu betapa sulitnya kehidupan ibu ku dulu, tidak seperti sekarang kehidupan ku. Lalu ibu mengatakan bahwa ibu sangat sayang kepada ku. Ibuku memang sayang kepada ku, aku tidak perlu meminta dulu sepatu namun ibu sudah membelikan untuk ku. Ibu berkata dulu hidupnya sangat sulit dan tidak menyenangkan sebagai seorang anak, jadi kini ibuku tidak mau anaknya juga merasakan hal yang sama. Ibu ingin anak anak nya senang pada masa kecilnya. Terima kasih ibu.

(Cerita pendek karya adinda Juwita/10th/2012)

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.