Hikayat Padatu, Dekam Mansinam yang Hampir Karam

Paku penyangga lantai kayu itu bergetar, ketika tapak kaki mungil mereka berdepak dengan gencar.  Sepuluhan pasang langkah meluncur dari arah tenggara, dimana awalnya mereka sedang bersantai sambil menunggu pelita.

Bukan mentari yang ditunggu kawan, namun pelita itu lebih berwujud harapan.

Sebagian belasan, namun ada pula yang berumur hitungan jari tangan. Jumat itu lagi dan lagi, pelita mereka datang. Mengunjungi Mansinam yang hampir karam.

Jika Van Der Wijck karamkan cinta, Mansinam bisa dibilang tak kalah terluka. Pulau di Papua yang dikata kental dengan sejarah, alam, dan asal mula, nyatanya kini pendidikan anak-anak Mansinam sedang akan tenggelam.

Jangankan mimpi jadi dokter, pilot, guru, dan seterusnya, mengeja saja mereka masih tertatih. Menghitung angka belum fasih. Bahkan sekadar pun ingin gigih, anak-anak itu tak bisa memilih.

Tapi dari jauh angin laut hangat bersaut lirih. Pulih.. pulihlah Mansinam, bersama impian Hikayat Padatu yang tak rela engkau karam.

Prolog – Hulu Hikayat Padatu

Saat mendengar kisahnya, tamsil “Indah kilap Mutiara, justru lahir dari gelapnya Samudra” mungkin benar adanya.

Brischo Jordy – Dok. IG Papua Future Project

Bhrisco Jordy Dudi Padatu, di mata ku bukan pemuda biasa. Lahir hingga besar di tanah Papua, tentu perlu upaya tak biasa jika kita bicara masalah pengembangan diri dan pendidikan.

“22 tahun saya hidup di Papua bukanlah hal yang mudah.” ucap ia, yang lebih akrab disapa Jordy.

Dalam catatan angan, masalah fasilitas, profesionalitas, bahkan akses untuk tahu bahwa bumi itu luas saja tidak dimiliki oleh mayoritas anak Papua. Kebanyakan dari mereka hanya tahu hidup itu dari apa yang bisa dijangkau pandangan mata.

Apakah hal buruk? Tidak juga. Namun kenyataannya pendidikan itu hak hidup. Utamanya untuk mereka, generasi penerus Papua.

Beruntung bagi Jordy. Sebagai anak asli Papua, ia masih bisa meneguk manis ilmu beberapa tetes lebih maju. Tapi justru pelepas dahaga itu melahirkan pemikiran berbeda.

Dari masih sangat muda, ia sudah yakin bahwa kesempatan yang ia punya bukan cuma haknya. Tapi juga tanggung jawab untuk mengembalikan pada sesama.

“Dan itu menggetarkan hati saya. Bagimana cara membangkitkan pendidikan di wilayah tertinggal.” tegasnya.

Sebagai bukti apa yang Jordy amini, ia telah mulai melangkah sejak masih di bangku sekolah. Salah satunya berusaha menjadi perwakilan dari sebuah program pemerintah yang fokus pada beberapa isu seperti kampanye bahaya pernikahan dini, penyalahgunaan NAPZA hingga seks pranikah.

Bhrisco Jordy Menjadi Duta GenRe BKKBN 2017 – Dok. YT Brisco

Menyandang selempang Duta GenRe Papua Barat, seakan menjadi tapak awal mewujudkan mimpinya untuk bisa membawa perubahan. Ia banyak bertemu sesama rekan sejawat, menyampaikan pesan dan konseling sesuai dengan mandat.

Dari situ hikayat Padatu seakan tak terbendung.

Tak tanggung, di usia yang masih sangat belia ia sudah yakin untuk pergi ke beberapa negara demi menyambung mimpi. Ia mengikuti program volunteering dalam bidang pendidikan, kemanusiaan, pertukaran pelajar hingga segudang prestasi syarat pengalaman.

Brischo Jordy Pojok Kiri Atas– Dok. IG Brischo Jordy

“Saya punya rasa penasaran yang begitu besar terhadap hal-hal baru. Berbekal itu menjadikan saya orang yang selalu belajar terutama dari lingkungan dan pengalaman orang lain.”

Teringat lagi pesan sang ibu, “Bertemanlah tanpa memandang strata, usia atau dia siapa.”

Inilah yang membentuk karakternya.

Dan semua pengalaman itu akhirnya sampai pada masa pembuktian. Apakah Padatu memang mampu membuat perubahan.

Mendobrak Tanpa Menunggu

Menoleh samudra maka kau akan belajar jutaan cerita. Bahkan dari kelomang bisa kita tarik makna.

Ia tak pernah menunggu untuk dapat cangkang yang tepat. Ketika telah datang waktu, ia tak ragu untuk keluar dari rumahnya yang terlalu penat.  Meski berat, ia tidak diam dan pasrah. Ia menolak kalah, mendobrak nasib dengan satu awalan langkah.

Mungkin kisah kelomang masih gamang, namun apa yang Jordy lakukan adalah langkah terang. Berbekal yang ada, ia sigap mengambil upaya.

Dari kacamata pribadi, Jordy sudah bukan seperti kebanyakan anak muda di luar sana. Yang ketika masalah meradang, cenderung offensive dengan balik menyerang. Mencari siapa yang bisa disalahkan, dijadikan kambing hitam.

“Kalau kita cuma berharap pada pemerintah atau pejabat untuk membuat perubahan pasti akan lama. Karena tugas mereka bukan hanya mengurus di bidang pendidikan saja. Dan perubahan besar perlu dobrakan dan keberanian,” ucap Jordy.

“Apa yang bisa saya lakukan?” ia berdebat dalam hati dan pikiran.

Memang benar jika Tuhan selalu punya cara tak terduga untuk menjawab keluh hambanya. Dan tak perlu waktu lama, satu kata terlintas di benaknya.

“Mansinam, ya saya harus merubahnya.”

Mansinam yang Hampir Karam

Anak-anak pulau Mansinam – Dok. IG Papua Future Project

Mansinam.

Garis pantainya syahdu, laut biru dengan hamparan pasir putih yang mustahil membuat mata jemu. Bayangkan saja sambil menikmati segar kelapa muda di bawah pohon perdu Arga. Apa bukan surga dunia namanya?

Alam nya? Jangan ditanya. Hasil laut berlimpah, tumbuhan hijaupun subur menampangkan kesan makmur ala negeri timur.  Belum lagi Mansinam juga dikenal sebagai gerbang masuknya trah religi di bumi cendrawasih.

“Setiap tanggal 5 Desember, ribuan masyarakat Papua akan berbondong-bondong menuju ke pulau ini untuk merayakannya acara keagamaan,” kisah Jordy.

Pada titik ini mungkin judul tulisan terkesan berlebihan. Bagaimana mungkin Mansinam yang bak potongan nirwana ini dikata hampir karam.

Andai boleh ber angan, penulis juga ingin sepakat satu pemikiran. Namun terkadang kenyataan terasa pahit untuk ditelan. Pendidikan Mansinam memang sedang di ujung peraduan.

Sekolah dasar di Mansinam – dok. Kemendikbud

Faktanya, pulau indah ini berada tak jauh Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat. Sekitar 6 kilometer saja, jarak yang masih bisa dipandang mata. Namun jangan tanya kesenjangan pendidikannya.

Dengan jumlah penduduk mencapai ratusan kepala keluarga, Mansinam hanya punya 1 fasilitas sekolah dasar. Jordy berkata sempat ada sekolah PAUD di Mansinam, namun tidak mampu bertahan karena satu dua alasan.

Konsep sekolah dasar pun tidak bisa dikatakan berjalan dengan lancar. Adakalanya murid datang untuk belajar namun ada pula momen murid masuk “hari tenang” karena kehadiran tenaga pengajar yang terhalang.

“Saya sudah survei di beberapa tempat, mulai Raja Ampat, Maybrat, Tambrauw, dan daerah lain yang lebih jauh dari ibu kota provinsi. Angka iliterasinya (kurang literasi) sangat tinggi, meski ada gedung sekolah, tapi guru jarang datang,” kisah Jordy.

Maklum saja, beraktivitas lintas pulau juga terkadang harus tunduk pada alam. Ibarat kata anak senja, ketika ingin ku tak didukung semesta, kita bisa berbuat apa?

Hasil dari minimnya aliran literasi di Mansinam adalah tingkat pendidikan yang bisa dibilang sangat rendah di sana. Untuk baca tulis saja mayoritas anak Mansinam masih belum menguasai. Apalagi berhitung dan ilmu pengetahuan umum.

Anak-anak pulau Mansinam – Dok. IG Papua Future Project

“Anak kelas 2 SMP di sana bahkan belum bisa membaca sama sekali,” mirisnya.

Jika mau dikata, tentu bukan Mansinam saja yang perlu uluran bantuan pendidikan. Namun sejalan dengan konsep kemanusiaan, upaya membantu terbaik dimulai dari lingkungan terdekat.

Dan bagi Jordy yang tinggal di Manokwari, Mansinam layaknya kerabat yang sedang perlu dipeluk erat.

Pahitnya Simalakama Budaya

Saat era masehi mulai berubah milenia, kita mengenal salah satu peninggalan umat manusia yang sering kali dianggap bagai buah simalakama, yakni Budaya.

Mengapa? Alasannya bisa ditarik secara kompleks dan penuh teori psyco-social, namun jika boleh dirangkum dalam kata sederhana.

Di satu sisi budaya merupakan hal yang mampu melindungi karena syarat nilai humani. Namun di sisi lain ada kala dimana justru manusia terjebak dalam pusara stagnansi ketidak-berkembangan dalam beberapa sendi kehidupan juga karena adat budaya.

Dan dalam kasus Mansinam, ini pula yang menjadi salah satu bait syair Hikayat Padatu lahir.

“Berjuang di tengah masyarakat yang masih memegang teguh adat atau budaya lokal yang sangat kental tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Salah satunya adalah anggapan bahwa anak-anak perempuan diharuskan menikah pada usia yang masih sangat muda,” kisah Jordy.

Anak perempuan pulau Mansinam – Dok. IG Papua Future Project

Acap kali menurut Jordy, melihat gadis usia belia yang mau tidak mau harus menerima nasib dinikah muda adalah pemandangan biasa di tanah timur.

Yang makin mengiris adalah kenyataan, stereotipe ini lah yang menjadi bibit lahirnya rangkain masalah turunan. Kemunduran pendidikan, masalah kesehatan hingga tingginya tingkat mortalitas dalam kandungan juga bisa disebabkan oleh rahim suci perempuan papua yang dipaksa terlalu dini.

“Tingkat kematian pada anak bisa meningkat, ketidaksiapan mental, fisik, dan pendidikan pun jadi terhambat. Pemahaman terkait kesehatan reproduksi, remaja Papua masih sangat minim. Kami di kota saja masih sangat tabu, apalagi mereka.”

Padahal dari pengalaman Jordy, yang ia tahu potensi kecerdasan anak perempuan di Mansinam justru rata-rata lebih tinggi dari anak laki-lakinya. Ini bisa disebut potensi di satu sisi, namun juga ironi di lain sisi.

Senyum anak pulau Mansinam – Dok. IG Papua Future Project

“Misalnya di Pulau Mansinam, anak perempuan lebih pintar dan menonjol saat pembelajaran. Kita ingin anak perempuan di Pulau Mansinam bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan kita kerap berkunjung ke rumah orang tua mereka untuk memberikan pengertian terkait anak perempuan mereka.”

Apakah hanya itu saja? Tunggu dulu masih ada halaman kelam selanjutnya.

Ketika menilisik lebih dalam “halaman belakang”, Jordy menemukan banyak fakta lain yang membuatnya semakin yakin untuk segera bergerak. Seperti ketika mengunjungi wilayah Sorong, di sana anggapan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan pertanda kesialan nyatanya bukan bualan.

Bayangkan, menjalani hidup biasa saja sudah susah bagi mereka. Ditambah lagi wajib menerima “cap” pembawa petaka tepat di dahi mereka. Tanpa bisa berteriak membela haknya.

“Bagi masyarakat setempat, anak-anak tersebut dianggap pembawa karma buruk dari orang tuanya. Sehingga mereka kerap kali dikucilkan.”

Sangat memprihatinkan.

Merajut Panji Perubahan

Tahun 2020 menjadi tahun yang sudah barang pasti tak mudah bagi kita.

Bagaimana tidak, saat pandemi covid menyerang, mayoritas sendi kehidupan masyarakat pun praktis lumpuh. Lalu jika tanpa pandemi saja pendidikan anak Mansinam sudah memprihatinkan, bagaimana di masa itu?

“Saat adanya lockdown, para guru dari Manokwari tidak datang, sehingga anak-anak di Pulau Mansinam juga tidak lanjut belajar,” terang pemuda penerima titel Honorary Youth Ambassador Indonesia for New Zealand tersebut.

Sudah mampu diterka, tentu akses anak-anak Mansinam untuk mendapat pendidikan semakin terbatas. Namun di sinilah salah satu letak pola fikir Jordy yang brilian. Terkadang waktu terbaik untuk memulai adalah justru ketika segala sesuatu sedang tidak baik-baik saja.

Bak seorang trader yang membidik saham di harga bawah, kondisi pasar yang sedang susah justru jadi tanda bahwa lampu merah mulai berubah.

Di situlah Jordy masuk, membawa angin segar untuk pendidikan anak di pulau Mansinam yang sedang tertunduk.

Menjelang akhir tahun 2020, Jordy mulai merancang konsep komunitas program belajar dengan nama Papua Future Project (PFP).  Membawa dasar keyakinan “Every Child Matters” bermakna bahwa setiap anak baik laki-laki atau perempuan dan berasal dari apapun latar belakang, punya hak yang sama dalam mendapat pendidikan.

Berdirinya Papua Future Project – Dok. IG Papua Future Project

PFP merupakan upaya berbasis komunitas dengan tujuan utama untuk memberikan pendidikan inklusif bagi anak-anak Papua di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal), dalam hal ini anak asli Pulau Mansinam.

Tak ingin setengah hati, Jordy benar-benar mempersiapkan segala sesuatu terutama konsep dasar kegiatan, aturan serta capaian.  Setidaknya ada 3 misi utama yang diperjuangkan Jordy lewat PFP.

Yang pertama adalah bimbingan belajar intensif yang dijalankan satu kali setiap minggunya. Ia dan beberapa relawan PFP akan mendatangi pulau Mansinam untuk memberikan pengajaran yang sudah dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan anak di sana.

Misi kedua adalah menjalankan literasi via buku dan literasi keliling. Program ini dijalankan dengan membawa asupan buku bertema hiburan anak dan pendidikan ke beberapa wilayah pedalaman Papua. Berkolaborasi juga dengan komunitas setempat, secara bergantian kumpulan jendela ilmu itu akan dapat dinikmati oleh anak-anak pedalaman Papua.

Dan misi yang terakhir lebih ke arah edukasi kesehatan. Berbekal koneksi dengan UNICEF Indonesia dan Kementerian Kesehatan, Jordy mampu mendapat kepercayaan untuk memberi penyuluhan tentang kesehatan dasar hingga mendorong literasi pentingnya imunisasi.

“Kegiatannya meliputi pengenalan kesehatan dasar, seperti cara mencuci tangan dengan benar untuk mencegah penyakit; memperjuangkan hak-hak anak perempuan untuk bersekolah dan mencegah pernikahan usia dini; serta memberikan akses imunisasi.”

Padatu dan Perahu Setengah Tiang

Arungi luas samudra, jamak cerita seorang nahkoda perompak dengan satu tutup di mata kirinya. Apakah karena buta? Tidak juga. Atau mungkin cacat terkena sabetan belati lawan? Seakan sang kapten tak perlu mata sebelah, selama ada mereka, kawan dengan sumpah seikat darah. Bukan soal jumlah, namun siapa yang siap ada waktu sedih juga kalah.  Jawabannya ada di geladak. Mata tertutup itu laksana awak, pengikut setia kemanapun anjungan bergerak.  Mereka yang tak gentar, berapapun tingginya ombak. Selama sang kapten masih berdiri, jiwa mereka pun akan tetap tegak.

Begitu pula dengan awal Padatu merakit perahu.

Ia sadar untuk mengubah pendidikan di Papua, yang ia butuhkan itu “Bahtera”. Sedangkan saat itu yang ia punya baru sebuah perahu dengan bendera di tengah tiangnya.

“Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan anak-anak muda yang mau sukarela dan memiliki waktu konsisten untuk mengabdi di sini.”

Memang bukan perkara sepele. Untuk benar-benar terjun di bidang kerelawanan terutama di daerah tertinggal membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. Bukan hanya bekal niat dan semangat, namun waktu, komitmen, keberanian, hingga dana yang tidak sedikit jumlahnya.

Jordy bersama anak Mansinam  – Dok. IG Papua Future Project

“Sekali sewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Mansinam membutuhkan biaya Rp250 ribu, belum lagi kalau kita membawa peralatan penunjang lainnya,”ungkap Jordy.

Sebagai gambaran, pulau Mansinam memang hanya berjarak 6 kilometer dari Manokwari, tapi untuk menyeberang laut ada aturan mainnya.

Niat alam tak selalu seragam dengan tujuan mulia para relawan. Ada kalanya kita memang tidak bisa menyeberang karena kondisi laut dan cuaca.

“Kalau sedang pasang, ombaknya bisa 1 sampai 2 meter.”

Oleh karena itulah terdengar wajar jika pada awal mula Papua Future Project melaju, baru ada 5 awak saja di “perahu Padatu”.

“Kami selalu punya prinsip bahwa kualitas lebih patut diperhatikan daripada kuantitas. Mau sebanyak apapun relawan, tapi mereka tidak memiliki hati yang tulus untuk mengajar. Maka mereka tidak bisa mempersiapkan pembelajaran dengan baik, percuma,” yakin Jordy.

Lain lagi cerita tentang kebutuhan dana. Mustahil rasanya program PFP bisa berjalan jika tidak ada pihak yang menyokong untuk urusan keuangan.

Tapi apakah Jordy angkat tangan? Tidak kawan, tekadnya sudah bulat, tidak ada jalan kembali.

“Sebelum membangun Papua Future Project ini, saya sempat kerja sebagai barista dan helper. Karena saya tahu untuk membuat project itu butuh modal yang cukup besar.”

Tidak hanya kerja keras, jalur kerja cerdas pun juga ditempuh oleh Jordy.

Berkat pengalaman dan upayanya dalam bidang kerelawanan, ia dipercaya untuk mendapatkan sokongan dana bantuan dari UNICEF Indonesia dan sejumlah organisasi sosial. Tidak hanya itu ia juga mencoba membuat penggalangan dana secara online untuk mempermudah siapa saja yang ingin ambil bagian dalam upaya menyelamatkan Mansinam.

Pembuktian perjuangan Jordy juga bisa dilihat dari bagaimana apresiasi yang berhasil ia dapat. Paling hangat, Satu Indonesia Award 2022, sebuah ajang prestisius bagi insan inspiratif yang digawangi oleh perusahaan Astra mendapuk Jordy menjadi salah satu Jawara.

Dipandang memberi upaya besar di bidang pendidikan, Jordy bersama Papua Future Project-nya menjadi bukti bahwa upaya positif akan menarik niat mulia juga.

Jordy membagi cerita bahwa dukungan Astra baik dalam bentuk pendanaan dan pemberitaan menjadi salah satu “bahan bakar” Perahu Padatu bisa menjangkau lebih banyak wilayah terpencil di Papua. Memberi dampak positif lebih lebih luas dan membuka “pintu” kesempatan selanjutnya.

Jatuh bangun telah dirasakan perahu Padatu dan awaknya. Sempat air masuk setinggi dada, karena lambung kapal berlubang terkoyak karang. Tapi mereka yakinkan bangkit, Bangkit Bersama Untuk Indonesia.

Perlahan sampai panji bendera itu naik mengangkasa.

Tanah Itu Ibu dan Laut Adalah Ayahnya

Jordy menatap Mansinam dari perahu yang mengantarkannya ke pulau itu. Yang ada dalam benaknya adalah, ia tahu bahwa tahap perubahan terberat adalah mengubah pola fikir.

Dimana Mansinam melihat tanah sebagai ibu dan laut lah ayah mereka, adat budaya adalah sesuatu yang tidak boleh dilupakan begitu saja.

“Nilai-nilai adat istiadat dan budaya (di Pulau Mansinam) tidak boleh hilang. Nah, bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan mereka pendidikan sehingga mereka bisa baca, bisa nulis. Supaya mereka bisa menulis apa yang mereka tahu tentang budayanya sehingga budaya itu tidak terkikis oleh zaman,” ujar alumnus President University itu.

Oleh karena itulah muncul pendekatan unik yang ditawarkan Jordy lewat Papua Future Project. Ketimbang fokus pada pengajaran berdasarkan kurikulum yang sudah pasti anak Mansinam sulit ikuti, akan lebih baik pendekatannya diubah ke arah kontekstual sehingga lebih membumi.

Anak Mansinam dengan hasil karyanya – Dok. IG Papua Future Project

“PFP memberikan pendidikan dengan kurikulum tersendiri. Disebut sebagai kurikulum kontekstual yang menggabungkan nilai-nilai budaya dan adat istiadat dalam pembelajaran. Sehingga, anak-anak tidak dituntut menyesuaikan dengan standardisasi Nasional, melainkan mengawali mereka dari kemampuan membaca dan menulis,” papar Jordy.

Sebagai anak asli Papua, Jordy sangat faham bahwa mengajarkan ilmu lewat hal yang belum pernah dikenal anak justru bakal menimbulkan beban. Oleh karena itu pendekatan kontekstual menjadi pilihan.

Sebagai contoh, anak-anak diajak melukis lalu mengeja nama-nama ikan yang sering mereka tangkap di laut, atau pepohonan yang mereka panjat saat bermain melepas penat.

Terkadang para pengajar juga bersentuhan dengan pesan untuk jaga alam.

Jordy berkisah tentang penyu yang sedang menyelam. Kisah bagaimana sang penyu yang sendirian, berjuang demi menjangkau pantai saat mentari masih padam. Lalu sang penyu bertelur dengan 1 harapan, agar anak-anak bisa terus melihat penyu di pantai Mansinam.

Pembelajaran untuk melestarikan, menjaga dan tidak membuat alam murka.

Itu semua menjadi alasan mengapa mereka, anak-anak Mansinam merasa lebih mudah mencerna.

Kuncinya adalah belajar sambil tetap bahagia.

Sa Suka Belajar..

Jemari Alfian pelan menekan. Matanya berbinar, fokus berburu dimana tombol yang ia cari itu. Ketemu! Huruf N menjadi akhiran. A L F I A N.

Ya, bocah asli Mansinam itu sedang belajar mengetik namanya sendiri di laptop kakak relawan.

Anak Mansinam belajar teknologi– Dok. IG Papua Future Project

Tidak hanya Alfian yang bersemangat, puluhan anak lain juga mengerubungi kakak relawan dengan khidmat.

“Anak-anak di sini semangat sekali belajar. Beberapa banyak juga yang tertarik dengan teknologi,” aku Jordy.

Ini menjadi bukti bahwa ketika bicara tentang sumber daya manusia, sebenarnya timur dan barat tidak ada bedanya. Bahkan bisa dikata anak Mansinam juga punya potensi yang sama besar jika diberikan kesempatan dan fasilitas pendidikan yang memandai.

Namun dalam bingkai inklusifitas, tidak bisa dipungkiri memang perlu pendekatan yang berbeda dari kebanyakan anak di daerah maju sana.

Sebut saja Alfian, nama bocah lelaki ini menjadi salah satu bahan perbincangan penulis dan Jordy ketika bertukar pesan. Dengan jelas Jordy berkisah, Alfian lah juga yang menjadi salah satu motivasi besarnya, optimisme bahwa anak-anak Mansinam ini pasti bisa bangkit.

Mengapa? Ku tanya.

Pengalaman Jordy ketika awal mula melakukan survei di pulau Mansinam. Ia sempat tercengang dan hampir tak percaya karena ternyata Alfian sudah pandai baca tulis, menghitung angka bahkan faham sejumlah ilmu umum.

“Sejak awal PFP berjalan, Alfian ini sudah jago matematika bahkan bisa beberapa kosa kata bahasa inggris,” kenang Jordy.

Alfian mampu memutar presepsinya bahwa anak daerah Papua juga bisa.

“Kami akan berupaya keras agar Alfian bisa mendapat beasiswa hingga kuliah setinggi-tingginya. Dengan harapan juga menjadi motivasi lahirnya Alfian-alfian lain.”

Perjalanan Separuh Utuh

Gelang Papua Future Project – Dok. IG Papua Future Project

2 tahun sudah perahu Padatu berlayar. Dari awalnya 5, kini ratusan awak sudah bergabung bentangkan sayap lebih lebar. Bukan tanpa alasan, karena Jordy selalu membuka luas pintu geladak perahunya. Tidak terbatas, siapapun bisa ikut serta. Berlayar untuk mengubah wajah pendidikan di tanah Papua.

Penulis tergelitik saat menulis bab akhir. Jika umumnya cerita inspiratif diukur dari capaian, lalu apa yang sudah PFP yang dinahkodai Jordy hasilkan?

Jika yang diharap, Jordy mampu membawa anak Mansinam memenangkan kejuaraan, berkalung mendali, atau mungkin berhasil menelurkan capaian luar biasa. Saat ini belum, tapi haluannya sudah mengarah ke sana.

Namun yang pasti, saat ini anak-anak Mansinam sudah bisa belajar dengan nyaman sambil raut bahagia tersungging di ujung senyuman.

Upaya literasi kesehatan juga berdampak semakin banyak keluarga yang sadar untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Serta upaya edukasi anti pernikahan dini buat makin banyak anak gadis Mansinam mulai berani bermimpi. Belum semua dan mungkin tidak, namun pelan tapak demi setapak, cahaya perubahan samar merebak.

Epilog – Mansinam Tak Jadi Karam

Senyuman anak Mansinam – Dok. IG Papua Future Project

Sang nahkoda berseru kencang, “Perjalanan kita masih jauh!”

Meski masih separuh utuh, semangat awak Perahu Padatu akan tetap teguh.

Bangkit menarik Mansinam yang kini tak jadi Karam.

Semoga.

 

 

Nani Sunarmi

Artikel ini diikut sertakan pada kompetisi Anugerah Pewarta Astra 2022

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *