Opini – Humaniora

Dosakah Aku?

Opini – Humaniora

Dosakah Aku?

Melawan cara pandang yang tak memandang…

Seorang Ibu terlihat dalam “penjara” itu

 tanganNya terpasung sapu, kakiNya tertanam dalam lantai penjara itu

Saat udara kebebasaan seakan hanya diteguk kaum adam,

 tiap peluhNya hanya jadi bahan gunjingan yang tak berharga

sadarkah ?

Apakah seketika anakNya menjadi dewasa ? lalu ia berharga

Apakah bisa laki-laki hidup tanpa Ia ? budak yang Mulia

Apakah memang hanya ada sebelah mata untuk memandang Mereka ?

Sadarkah dunia fana yang meng-adil-i Nya ?

 

namun aku tetap percaya…

Mereka lah akan mulia dan Mereka tak berdosa

Sebuah puisi pendek tersebut memberi makna yang dalam bagi kaum gender yang nampaknya mulai tergerus eksistensinya yaitu kaum Ibu Rumah Tangga . Ibu rumah tangga telah menjadi profesi “tahanan” bagi sebagian manusia. Mengapa ? . Kesetaraan Gender ,inikah jawabnya..  isu yang telah meniupkan angin kebimbangan dalam tiap sendi kehidupan perempuan.

Haruskah perempuan ikut didalamnya demi memperjuangkan apa yang dinamakan keadilan, emansipasi, melepas tirani budaya partiarkhi . Atau mereka memilih untuk “mengorbankan” kebebasan mereka demi apa yang telah di yakini benar dalam hati mereka.

Berkarier dengan segala kelebihan dan kekuranganya tentu membawa konsekuensi pada rumah tangga, sementara menjadi ibu rumah tangga kini dianggap semata akan menghambat aktualisasi potensi diri karena perempuan hanya akan berhadapan pada pekerjaan monoton, non-profit, dan rumah sendiri tak lebih sebagai terminal terakhir perempuan dimana di sana tak perlu pengasahan otak dan tuntutan SDM berkualitas tinggi. Inilah fakta yang penulis tangkap.

Dari sini terlihat bahwa status ibu rumah tangga lebih disandang dengan perasaan inferioritas tinggi dibanding karier yang terlihat jelas keunggulannya. Dalam hubungan bermasyarakatpun si perempuan akan memperkenalkan statusnya dengan suara lirih dengan mengatakan “saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa”, atau seorang suami akan memperkenalkan status istrinya dengan nada suara merendah “istri saya tidak bekerja, ia hanya di rumah.” (Mia Endriza,2009)

Haruskah sosok seorang ibu rumah tangga terancam punah dari kamus hidup perempuan ? sebagai pengorbanan yang harus direlakan atas “perjuangan kesetaraan” yang kini digembar-gemborkan. Melalui media berfikir bersama ini, penulis hanya ingin mengajak setiap insan untuk lebih menghargai pilihan hidup yang diambil setiap perempuan, apakah itu melanjutkan hidup melalui jalur “luar” ataupun jalur “dalam” utamanya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Bukan kah pluralitas yang kini bergandeng asas suci Demokrasi kita mengartikan seperti itu ? setidaknya penulis beranggapan demikian. Karena bukan plural jika tak berbeda.

Pro dan kontra akan kesetaraan gender merupakan hal yang pasti terjadi.  Perbedaan cara pandang, latar belakang, serta intelektualitas setiap individu yang ada, tak ayal membumbungkan berbagai stigma dan pandangan berbeda terhadap isu tersebut. Pada konsep awal kesetaraan gender, asas pluralitas mengharapkan penghargaan atas perbedaan yang ada, namun bukan tanpa aturan perbedaan tersebut di hargai.

Setelah penulis melihat realita yang ada, pro dan kontra yang sehatlah yang dapat menjadi ruh dari pluralitas tersebut. Yang dibutuhkan bukan angkat senjata atau melempar justifikasi destruktif, namun kebersamaan dalam penyatuan cara pandang yang ada menjadi mindset bersama dalam memandang kesetaraan gender (laki-laki perempuan). Karena pada dasarnya tiada kesempurnaan yang dapat dibuat oleh manusia. Perlu adanya keseimbangan yang saling melengkapi satu sama lain.

Namun kembali pluralitas cara pandang bermain di sini, penulis yakin masih terbesit satu luka di hati para penggiat pro versus kontra jika harus menjilat ludah demi menyatukan visi akan pandangan yang mereka lawan masing-masing. Kembali , penulis hanya mencoba berpandangan “bebas” akan “kebebasan” ini.

Mengerucut pada obyek utama penulis yaitu eksistensi ibu rumah tangga dalam keluarga, pada dasarnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki tidak dapat diwujudkan  dengan mudah. Karena, pada dasarnya laki-laki dan perempuan telah diciptakan ‘berbeda’  sesuai kodrat. Budaya serta tradisi bukanlah pembentuk perempuan menjadi  keibuan, namun memang dari lahirayah, secara hormonal perempuan telah memiliki peran  keibuan.

Perempuan mengalami tugas perkembangan biologisnya layaknya haid, hamil, melahirkan, menyusui hingga kemampuan insting untuk mengasuh anak-anaknya.  Begitu pula, hormonal laki-laki menjadikan ia kebapakan. Tuhan sedemikian rupa memberikan perbedaan ini agar antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi dengan fungsi masing-masing. Bukan untuk mencapai sebuah persamaan fungsi, hingga menafikan kodrat sebagai laki-laki dan perempuan.

Berbicara mengenai kodrat, unsur sakral inilah yang menjadi salah satu pertentangan hebat. Saat kaum fanatis pro mencoba menembus batas tersebut dengan pandangan-pandangan liberal yang memang berasal dari dunia barat, kaum fanatis kontra terus bersikeras menutup semua celah penerimaan ideologi yang masuk. Mengapa penulis memberi label fanatis, sebab penulis memandang persoalan ini memang lahir dari fanatisme yang berlebihan.

Berikutnya, tanpa ingin mengedapankan opini-opini persuasif-negatif yang terlontar antar kedua kubu, pro dan kontra. Penulis  ingin memaparkan fakta yang telah terjadi terkait isu kesetaraan gender. Fakta berikut ini bisa jadi merupakan lembar-lembar hitam dari diary perseteruan yang perlu dibakar oleh kedua kubu untuk mencapai kesatuan dalam pluralitas.

Faktanya, kini para ibu didorong keluar rumah untuk berlomba mendapatkan kesempatan beraktivitas di segala bidang. Beraktivitas dalam rumah tangga oleh para aktifis fanatis kesetaraan gender dianggap mensubordinasikan perempuan dan secara ekonomi tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya tak jarang banyak ibu meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga demi mengejar kesetaraan dengan laki-laki. Jadilah anak-anak yang merasakan dampaknya.

Anak dibiarkan hidup dengan miskin bimbingan dan arahan. Banyak anak yang kesepian, tidak bahagia, sehingga melakukan kompensasi yang salah, dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang, pergaulan bebas, konsumen situs porno di internet, pelaku kejahatan dan sebagainya. Para suami pun merasa kehilangan manager rumah tangganya. Keutuhan keluarga terancam, bahkan bisa bubar, dan yang paling menderita adalah anak. Inikah yang menjadi tujuan akhir kita ?

Mendidik generasi tidak hanya ditanggung oleh lembaga pendidikan atau lingkungan namun peran keluarga sangatlah menentukan. Dan peran ibu sangatlah besar, ini tidak cukup dengan kuantitas ibu berada bersama anak tapi kualitas jalinan batin tersebut. Seorang ibu lah yang dapat menjadikan suatu generasi emas untuk masa mendatang atau merelakan menjadi generasi suram yang akan menghancurkan bangsa nantinya.

Namun terlepas entah dari kacamata mana pandangan penyetaraan itu hadir, tidak dapat ditampikkan bahwa fakta usaha penyetaraan gender juga telah memberi dampak positif bagi perempuan di berbagai bidang. Seperti pemberian kesempatan pendidikan yang layak, perlindungan, serta penghargaan akan karya kaum hawa.

Di sisi lain, faktor agama yang dituding sebagai pengekang utama kebebasan perempuan nampaknya juga telah memicu permasalahan urgent ini semakin pelik. Nyatanya semua agama utamanya agama islam dalam hal ini, sangat berbalikan akan apa yang disematkan sebagai agama yang bias gender. Penulis tidak akan bertele-tele membahas hal sudut pandang tersebut. Namun kembali kita diarahkan pada rasa saling menghargai dan mencoba memahami apa yang terbaik untuk bersama.

Akhirnya, saat seorang perempuan telah yakin dengan pilihannya untuk menjadi ibu rumah tangga maka ini adalah karier yang perlu keseriusan dan ketekunan penuh. Tak perlu ragu untuk mengatakan dengan mantap status perempuan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tentu dengan memberi dukungan moril dan spiritual dari semua pihak, pluralitas menuju kesatuan yang utuh dapat terwujud dalam tatanan hidup kita. Amin. *

Mocha Majid, Desember 2012

*Penulis dedikasikan karya ini untuk semua perempuan yang telah berjuang tak hanya untuk diri sendiri juga untuk setiap yang mereka cintai. Dedikasi tertinggi untuk Ibu ku tercinta…terima kasih untuk semuanya kasih Mu

Mau tau tulisan saya selanjutnya?

We will process the personal data you have supplied in accordance with our privacy policy.